Jumat, 07 Maret 2014

Cerpen Mading HIMA PGSD.



Gilang dan Koran
Oleh : Frida Laksmita Dewi

            Gilang berjalan menuju teriknya matahari yang siang itu mungkin sangat menyilaukan mata. Juga pasti akan menghitamkan kulit menjadi hitam legam. Kini yang dia pikirkan hanya setumpukan koran yang dia bisa bawa. Kemudian dia jajakan ketika lampu lalulintas menjadi merah. Dia tawarkan kepada yang beroda empat atau beroda dua. Entah harapannya kini hanyalah demi kesembuhan ibunya.
            “Koran, cuman kamu satu-satunya harapanku untuk senyum Ibu kembali.” Katanya dengan setumpukan koran itu.
            Tapi sudah beberapa lamanya. Hingga setengah harian penuh sampai matahari mulai meninggi. Tak kunjung juga korannya laku hari ini. Dia kemudian tak habis akal, dijajakannya lagi koran itu ditiap-tiap lampu lalu lintas. Hingga saat yang tak terduga terjadi, ketika Gilang berhenti di depan mobil untuk menawarkan korannya.
            “Itu Gilang, bukan Nis?.” Kata salah seorang yang berada di dalam mobil, tepat Gilang ada di depannya sambil membawa koran.
            “Eh, iya Sril. Itu Gilang. Kenapa dia ada dijalan dan membawa koran?.” Jawab gadis itu dengan nada yang keheranan tak percaya.
            Ketika Gilang menawarkan korannya di mobil temannya. Diapun kaget dan lari, tapi kedua temannya mengerjarnya. Hingga Gilang lelah dan merasakan sudah tidak dikejar-kejar lagi oleh kedua temannya tadi. Gilang duduk, berteduh di bawah pohon. Mulai merasakan nikmat dari-Nya. Sederhana saja, angin yang semilir dan berteduh di bawah pohon sudah membuat hati Gilang tidak di kejar-kejar kedua temannya tadi. Hingga Gilangpun tertidur lelap di bawah pohon yang rindang itu.
            Gilangpun yang tampak sudah segar kembali, meninggalkan sejuknya pohon itu. Dan mulai menapakkan kakinya menuju rumahnya. Karena dirasa cukup uang hari ini setelah menjajakan koran seharian penuh. Dan juga langit tampaknya memaksa Gilang untuk bergegas menuju ke rumah. Ada  apa ini, nampak hatinya gelisah. Bukan karena ketahuan dengan kedua temannya, kalau dia seorang penjual koran jalanan. Tapi sepertinya aneh, tidak seperti biasanya. Rasa ketakutan mulai muncul. Segeralah Gilang berjalan menapakkan kakinya lebih cepat dan bergegas ingin cepat pulang ke rumah.
            Sampailah dia di rumah dan harus melihat kenyataan bahwa Ibunya yang dicintainya. Sosok yang paling membuatnya kuat merasakan pahitnya hidup. Dan juga seseorang yang mampu memberinya semangat untuk tetap terus belajar dan belajar menuntut ilmu. Kini sudah diambil nyawanya oleh Sang Kuasa. Gilang segera memeluk Ibunya dengan erat.
            “Ibu, tolong bangun. Jangan tinggalkan Gilang sendiri Bu.” Kata Gilang sambil terisak menangis.
            “Ibu, Gilang berjanji akan menjadi sarjana. Apa Ibu tak ingin melihat Gilang memakai toga?.” Kata Gilang kepada Ibunya yang kini diam membisu.
            “Ibuuuuuu. Gilang belum sempat membuat bangga Ibu.” Tangis Gilang memuncak.
            Tanpa sadar Gilang terbangun di bawah pohon yang rindang, sambil berteriak memanggil Ibunya.
            “Ternyata hanya mimpi.” Kata Gilang sambil mengusap keringat yang menemami tidurnya tadi. Lalu ada kedua sosok temannya yang ternyata sudah lama duduk menemani tidurnya Gilang yang disebabkan rindangnya pohon.
            “Kalian kenapa disini?.” Kata Gilang yang segera bangkit dan ingin meninggal kedua temannya itu.
            “Gilang, kami berdua kesini mencari kamu.” Kata Nisa teman satu kuliah Gilang yang menarik tangan Gilang, berharap jangan pergi meninggalkan tempat ini.
            “Kalian mau apa kesini?. Mau menghinaku? Mau menertawakanku?. Kalau aku cuman seorang tukang koran jalanan !.” tegas Gilang.
            “Bukan begitu. Kita berdua mencari kamu. Karena sudah hampir seminggu lebih kamu tidak masuk kuliah. Kenapa? Ada apa?.” Tanya Asril.
            “Ibuku sakit. Aku harus harus mencari uang dengan berjualan koran. Cuman ini yang bisa kukerjakan dengan halal.” Jelas Gilang.
            “Kenapa tidak cerita ke kita?. Kami berdua bisa membantu pengobatan Ibu kamu.”
            Gilang hanya terdiam dan suasana menjadi sangat hening. Terpecahkan oleh suara kaki Gilang yang bangkit meninggalkan tempat itu.
            “Gilang, kalau Ibu kamu tidak segera diobati. Nyawanya akan hilang. Kasian Ibu kamu.” Teriak Nisa yang berusaha menghalangi Gilang untuk bangkit dari tempat ini.
            Gilang terkejut dan mengingat mimpi dia tadi tentang Ibunya. Hati kecilnya beradu, entah harus bagaimana. Kemudian dia merogoh saku celanannya. Hanya selembar uang dua ribu rupiah. Bisa apa dia dengan semua itu. Dengan raut muka yang sungkan, dia menganggukan kepalanya. Mengiyakan pertolongan kedua temannya.
            Mereka bertigapun segera menuju rumah Gilang dan membawa Ibunya ke rumah sakit. Hingga sampai beberapa minggu Ibu Gilang sudah sehat kembali. Dan berterima kasih kepada Nisa dan Asril teman satu kuliah Gilang. Mereka bertigapun menjadi sahabat dan selalu bermain di rumah Gilang. Entah mengerjakan tugas kelompok atau sekedar berbincang.

Tamat.